KONTRIBUSI REMAJA JAWA TENGAH DALAM PERENCANAAN KEHIDUPAN BERKELUARGA

LOMBA PENULISAN ESAI REMAJA JAWA TENGAH


Semarang, 15 Oktober 2025. Forum Genre Jawa Tengah bersama Pelataran Sastra Kaliwungu, serta didukung oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Perwakilan Provinsi Jawa Tengah, sukses menyelenggarakan Lomba Penulisan Esai Remaja Jawa Tengah 2025 dengan tema besar “Kontribusi Remaja dalam Perencanaan Kehidupan Berkeluarga”. Para peserta dibebaskan memilih sub-tema, diantaranya Remaja sebagai Calon Orang Tua Teladan, Kesehatan Mental Remaja, Remaja Cegah Stunting, dan Perkawinan Anak.
Kegiatan ini dilaksanakan secara daring sejak bulan Agustus hingga September 2025 untuk tahap pengiriman karya. Sebanyak 340 peserta dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Tengah dengan rentang usia 16–24 tahun berpartisipasi dan mengirimkan esainya. Antusiasme tinggi dari para remaja menunjukkan bahwa generasi muda Jawa Tengah memiliki kepedulian dan kesadaran kritis terhadap berbagai isu penting di sekitar mereka, seperti perkawinan anak, stunting, kesehatan mental, serta peran remaja sebagai calon orang tua teladan.
Setelah melalui proses seleksi ketat oleh dewan juri yang kompeten di bidang literasi dan pemberdayaan remaja, terpilih 10 finalis terbaik yang mempresentasikan gagasan mereka pada 10 Oktober 2025 secara virtual. Presentasi tersebut menjadi ajang berbagi ide, inovasi, dan solusi kreatif remaja untuk menjawab berbagai tantangan sosial di Jawa Tengah.
Adapun dewan juri dalam kegiatan ini terdiri atas:
- Heri C. S. – Chief Editor Radio Idola & Penerima Penghargaan Pegiat Literasi Tingkat Provinsi Jawa Tengah
- M. Lukluk Atsmara Anjaina – Sekretaris Jenderal Pelataran Sastra Kaliwungu & Ketua Forum Genre Jawa Tengah 2020–2022
- Eka Susanti – Pengurus Forum Genre Jawa Tengah 2024–2026 & Mapres Utama II Unnes 2025.
Dari hasil penilaian akhir dan setelah melalui proses seleksi ketat, diumumkan tiga pemenang utama yang berhasil menyajikan gagasan paling orisinal, relevan, dan berdampak:
- Juara I – Rizqiyani Syifa Widiastuti (Kabupaten Pekalongan) dengan esai berjudul “Youth Legal Clinic: Inovasi Paralegal Remaja Desa untuk Advokasi Hukum Cegah Perkawinan Anak.”
- Juara II – Finkan Larasati (Kabupaten Purworejo) dengan esai berjudul “Nara (Narasi Remaja dan Lansia): Program Storytelling Lintas Generasi Berbasis Empati untuk Menguatkan Kesehatan Mental Remaja dan Kesiapan Berkeluarga.”
- Juara III – Adha Dwi Fathurrochman (Kota Surakarta) dengan esai “Gampilwatch: Inovasi Smartwatch IoT untuk Deteksi Kesehatan Mental Remaja Terintegrasi Website dan Tracker Lokasi.”
Salah satu dewan juri, Heri C. S., Chief Chief Editor Radio Idola sekaligus penerima Penghargaan Pegiat Literasi tingkat Provinsi Jawa Tengah, mengaku terkesan membaca karya para peserta. “Membaca karya-karya peserta lomba esai ini membuat saya merasa berbunga-bunga. Ternyata, para remaja juga memerhatikan isu besar bangsa kita. Mereka aware terhadap persoalan di sekitar dan mampu mengurai, menganalisis, serta menyuguhkan solusi,” ujarnya.
Menurutnya, kesadaran remaja atas isu seperti stunting, fatherless, gangguan kesehatan mental, pernikahan dini, bullying, hingga kekerasan pada anak menunjukkan kepekaan sosial yang luar biasa. “Ini membanggakan. Dahulu musuh bersama kita adalah penjajah, kini musuh bersama itu bernama stunting, fatherless, hingga kekerasan pada anak. Ide-ide brilian peserta seperti Youth Legal Clinic, Gensik Mentari, Eggbar Gallus, hingga Gampilwatch harus diwujudkan dalam aksi nyata di masyarakat,” imbuhnya.
Ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas pihak agar ide-ide remaja ini tidak berhenti di atas kertas. “Genre Jateng bisa menjadi jembatan sinergi antara remaja, masyarakat, dan pemangku kebijakan. Jika ini terwujud, Genre Jateng akan memberi sumbangsih bermakna bagi bangsa,” pungkas Heri.
Apresiasi dan Pesan dari Penyelenggara
Ketua Forum Generasi Berencana Provinsi Jawa Tengah, M. Khotibul Umam, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas partisipasi seluruh peserta dan pemenang dalam lomba ini. “Remaja bukan hanya objek masalah, tapi sumber utama solusi. Energi dan kreativitas mereka harus diubah menjadi rencana aksi yang berdampak sosial,” tegasnya.
Ia menambahkan, hasil lomba ini tidak akan berhenti di meja juri. “Youth Legal Clinic akan kami sinergikan dengan program pencegahan stunting dan perkawinan anak di desa-desa. Nara akan direplikasi di pusat konseling remaja, sementara Gampilwatch akan kami dorong dikembangkan bersama sektor teknologi dan kesehatan,” jelas Umam.
“Harapan kami sederhana: karya-karya remaja ini berakar kuat di masyarakat dan menjadi gerakan nyata untuk mewujudkan remaja Jawa Tengah yang sehat, tangguh, dan siap berkeluarga,” tutupnya.
Senada, Presiden Pelataran Sastra Kaliwungu, Bahrul Ulum A. Malik, dalam sambutannya pada Presentasi 10 Besar Esai Terbaik menyampaikan apresiasi mendalam terhadap semangat dan antusiasme para peserta. “Sebanyak tiga ratus lebih remaja Jawa Tengah telah menuangkan pemikiran dan gagasan luar biasa melalui tulisan. Antusiasme ini patut diapresiasi dan diberikan ruang yang layak. Pelataran Sastra Kaliwungu berkomitmen untuk mengarsipkan seluruh karya tersebut dalam bentuk buku bunga rampai esai bertajuk Perencanaan Kehidupan Berkeluarga – Remaja Jawa Tengah,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Bahrul Ulum menegaskan bahwa banyak gagasan-gagasan segar dari remaja Jawa Tengah yang bisa diwujudkan secara nyata untuk mengatasi persoalan remaja mulai dari pernikahan dini, narkoba, hingga Kesehatan mental dan memiliki nilai praksis yang tinggi. “Banyak ide segar yang bisa diwujudkan secara nyata untuk bersama-sama mengatasi permasalahan remaja, mulai dari isu perkawinan dini, penyalahgunaan narkoba, hingga kesehatan mental. Semua ini bermuara pada satu tujuan: mempersiapkan remaja menjadi generasi yang siap menghadapi kehidupan berkeluarga yang sesungguhnya,” tambahnya.
Merasa Bangga dan Haru
Rizqiyani Syifa Widiastuti, Pemenang Pertama asal Pekalongan merasa bangga dan terharu telah meraih kemenangan dalam Lomba Penulisan Esai Remaja se-Jawa Tengah ini. “Rasanya, kemenangan ini bukan semata tentang siapa yang paling hebat menulis, tapi tentang bagaimana ide-ide bisa disusun dan diperjuangkan untuk membawa perubahan nyata bagi masyarakat. Esai ini lahir bukan dari ambisi untuk meraih juara, tapi dari keinginan sederhana: bagaimana hukum dapat hadir untuk melindungi remaja, bahkan hingga ke pelosok desa,” tuturnya.
Ia menambahkan, kemenangan sejati bukan hanya di atas podium, melainkan saat gagasan dapat memberi manfaat bagi orang lain. “Saya percaya, setiap gagasan memiliki kekuatan untuk menggerakkan dan remaja punya peran besar untuk memulai perubahan itu. Kemenangan ini adalah kemenangan bagi semua peserta, setiap gagasan menginspirasi perubahan bagi masyarakat yang lebih sejahtera,” ujarnya.
Tentang gagasan yang ia usung, Rizqiyani menjelaskan “Konsep Youth Legal Clinic berangkat dari gagasan membangun ruang belajar hukum bagi remaja di tingkat desa. Di sini, remaja tidak hanya tahu hak dan kewajibannya, tapi juga berani memperjuangkannya dengan cara yang benar,” jelasnya.
“Ke depan, saya ingin merealisasikan Youth Legal Clinic di tingkat desa, berkolaborasi dengan teman-teman sebaya, karang taruna, pihak desa, serta LBH kampus. Kami akan memulai dari hal-hal sederhana: kelas literasi hukum remaja, pelatihan hak anak, hingga diskusi terbuka di sekolah dan balai desa. Harapan saya, program ini bisa tumbuh menjadi ruang belajar hukum yang hidup di tengah masyarakat, tempat di mana remaja memahami dan memperjuangkan haknya dengan bimbingan yang tepat,” pungkasnya.
Lomba Penulisan Esai Remaja ini menjadi bukti bahwa tulisan tidak hanya sekadar karya, tetapi juga cermin kesadaran dan kepedulian remaja terhadap masa depan bangsa. Melalui kegiatan ini, Pelataran Sastra Kaliwungu dan Forum Genre Jawa Tengah berharap dapat terus menumbuhkan ekosistem literasi yang memberdayakan remaja, memperkuat karakter, dan melahirkan generasi muda yang berpikir kritis, kreatif, dan solutif bagi Jawa Tengah yang berkemajuan.