Cintai Dirimu, Jangan Biarkan Orang Lain Melukaimu : Toxic Relationship

Toxic relationship adalah suatu kondisi hubungan yang tidak sehat yang setidaknya melibatkan dua individu. Toxic relationship bisa juga dikatakan seperti sebuah hubungan yang tidak saling menghubungkan, dikarenakan adanya dominasi dari salah satu pihak sehingga pihak lain merasa tertekan dan tidak nyaman. Seseorang yang terus berada dalam hubungan yang tidak sehat, dapat menimbulkan beberapa gangguan pada psikisnya seperti stress kronis, merasa terisolasi, rendah diri, dan fobia sosial. Sedangkan pada ranah yang lebih extreme bisa menimbulkan kekerasan yang dilakukan individu terhadap pasangannya dan beberapa memilih untuk bunuh diri.
Menurut CNN, Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebut penyebab utama angka perceraian yang tinggi adalah gara-gara toxic people. Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan sejak 2015 angka perceraian meningkat pesat. Dia menyebut toxic people adalah penyebab utamanya. Mengapa mereka bisa ‘toxic’? Seringkali mereka menghadapi stres dan trauma mereka sendiri. Mereka pun bertindak dengan cara yang tidak baik dan biasanya membuat orang lain kesal.
Berikut ciri Anda sedang berhadapan dengan toxic people.
1. Merasa dimanipulasi pada sesuatu yang sebenarnya tidak diinginkan.
2. Kerap dibuat bingung dengan tingkah laku seseorang.
3. Anda merasa layak untuk sebuah permintaan maaf tapi tak pernah ada.
4. Selalu merasa harus membela orang ini.
5. Anda tidak pernah sepenuhnya nyaman bersama mereka.
6. Anda terus merasa tidak nyaman dengan diri sendiri saat bersama mereka.
Toxic relationship bisa berujung pada kekerasan bahkan juga menyebabkan kematian. Sebuah fakta menyebutkan bahwa di Amerika Serikat ada 8 (delapan) juta anak perempuan pertahunnya yang mengalami. pelecehan dan kekerasan dari pacarnya bahkan sebelum berusia 18 tahun. Pelecehan tersebut dilakukan secara verbal, emosional, seksual, ataupun fisik. Hal yang dirasakan bervariasi oleh remaja tersebut seperti merasa kesepian, menutup diri, malu dengan teman – temannya, tidak percaya diri, malu dan merasa hina, bahkan selalu merasa bersalah, sehingga munculnya keinginan untuk bunuh diri, salah satu remaja yang mengalami toxic relationship menjadi stress akibat kegagalan dari sebuah ekspektasi yang tidak sesuai dengan harapannya. Sehingga terdapat dampak dari toxic relationship terhadap kesehatan remaja meliputi kesehatan fisik (insomnia, obesitas, asam lambung, dan luka fisik), dan kesehatan mental (galau, stress, dan kurangnya kepercayaan diri. Faktor – faktor penyebab toxic relationship meliputi faktor individu (Mengontrol rasa sayang dan menghadapi masalah), dan faktor Lingkungan (budaya, keluarga, dan pendidikan)
Catatan Tahunan (CATAHU) Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan pada tahun 2021, mendapati temuan 6.480 kasus kekerasan yang terjadi di ranah personal atau privat, sekitar 1.309 kasus diantaranya ialah kekerasan dalam hubungan berpacaran. Kasus Kekerasan Dalam Pacaran (KDP) menjadi kasus terbanyak kedua dengan persentase 20% setelah kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang mencapai persentase 50%. Bentuk kekerasan yang paling menonjol adalah kekerasan fisik sebesar 31% atau 2.025 kasus, disusul dengan kekerasan seksual sebesar 30% atau 1.938 kasus. Selanjutnya kekerasan psikis yang mencapai 1.792 kasus atau 28% dan terakhir kekerasan ekonomi yang mencapai 680 kasus atau 10%. (Data dari komnasperempuan.go.id melalui siaran persnya pertanggal 5 Maret 2021)
Bagi remaja yang mengalami toxic relationship untuk lebih memahami kembali bahasan mengenai cinta dalam sebuah hubungan yang sehat sebelum menjalin hubungan dengan lawan jenis, dengan pemahaman cinta yang baik dan positif tentunya akan menciptakan hubungan yang sehat dan terhindar dari toxic relationship. Untuk yang merasakan toxic dalam hubungannya, suatu tindakan yang baik jika anda bisa mengakhiri atau merubah hubungan toxic tersebut menjadi healthy relationship, jangan membiarkan dirimu kehilangan harga diri hanya karena tidak berani meninggalkan zona nyaman dalam hubungan pacaran yang tidak sehat. Sebagai remaja, senantiasa kontrol diri dan lakukan aktivitas yang lebih berguna sebagai pengembangan jati diri, layaknya keharusan yang tertanam dalam jiwa mahasiswa yakni menjadi agen perubahan sosial untuk kesejahteraan masyarakat. Didikan akhlak dari lingkungan keluarga, pendidikan dan masyarakat sekitar sangat mempengaruhi dalam meminimalisir dampak dari gaya pacaran yang tidak sehat. Diharapkan kepada remaja sebaiknya memilih lingkungan yang lebih positif dan menjadi individu yang lebih peduli terhadap kesehatannya.
Wahid Kharomah Nanda Zuliastin