DBD di Jawa Tengah Semakin Mengintai: Jangan Lengah!

Salah satu satu penyakit yang masih menjadi perhatian di Indonesia adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit ini merupakan penyakit endemik yang sering terjadi di wilayah tropis dan sub tropis. Provinsi Jawa Tengah terdiri dari 35 kabupaten/kota dan seluruhnya telah melaporkan kejadian infeksi virus dengue. Data Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementrian Kesehatan Republik Indonesia 2023 menunjukkan Jawa Tengah menjadi provinsi dengan jumlah kematian (Case Fatality Rate) tertinggi akibat DBD di Indonesia pada tahun 2022, yakni sebesar 2,08%. Pada tahun 2023 mengalami kenaikan menjadi 2,15%. Angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan dengan target nasional (<1 persen), dan lebih tinggi dibandingkan target renstra (<2 persen). Kenaikan jumlah kematian DBD Jawa Tengah juga diikuti dengan peningkatan angka kesakitan/ Incidance Rate (IR) dari tahun 2022 sebesar 14,29 menjadi 17,7 di tahun 2023. Kenaikan angka kematian di antara kasus terkonfirmasi ini mengindikasikan adanya permasalahan serius dalam penanganan penyakit endemik tersebut. Meningkatnya kasus DBD di Jawa Tengah dapat diakibatkan dari faktor lingkungan (cuaca, suhu, dan kelembaban) sehingga mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Selain itu kepadatan dan mobilitas penduduk yang tinggi, serta perilaku masyarakat seperti menyepelekan suatu penyakit dan kurangnya kesadaran masyarakat dalam pemberantasan nyamuk tersebut menjadi faktor penting mengapa kasus DBD semakin mengintai di Jawa Tengah.
Secara epidemiologis, penularan virus dengue memerlukan manusia sebagai perantaara dan nyamuk sebagai vektor. Siklus hidup virus dengue melibatkan dua tahap utama yaitu di dalam tubuh nyamuk (masa inkubasi ekstrinsik) dan di dalam tubuh manusia (masa inkubasi intrinsik). Masa inkubasi ekstrinsik terjadi di dalam tubuh nyamuk. Selama periode ini, virus dengue bereplikasi selama 4-10 hari sebelum mencapai kelenjar ludah nyamuk. Ketika nyamuk yang terinfeksi menggigit manusia (host), virus dengue masuk ke dalam tubuh manusia dan memulai masa inkubasi intrinsik. Di dalam tubuh manusia, virus dengue kembali bereplikasi selama 5-7 hari, dan setelah periode ini, gejala klinis penyakit demam berdarah dengue biasanya mulai muncul.
Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi ancaman serius di Jawa Tengah, dengan dampak yang merugikan bagi kesehatan masyarakat. Meskipun sebagian besar kasus dapat disembuhkan, masyarakat tetap perlu waspada terhadap kemungkinan komplikasi terjadinya syok atau Dengue Shock Syndrom (DSS) yang bisa berujung kematian. Tanda-tanda DSS di antaranya adalah muntah terus-menerus, nyeri perut, kaki dan tangan pucat, nadi melemah, gelisah, perdarahan, dan jumlah urin menurun. Selain itu, dampak DBD juga menimbulkan kerugian sosial dan ekonomi seperti biaya pengobatan yang mahal dan kehilangan anggota keluarga.
Tantangan terbesar dalam menangani kasus DBD di Jawa Tengah terletak pada kesadaran masyarakat yang masih rendah terkait pencegahan, gejala awal, dan pentingnya penanganan dini. Hal ini seringkali menyebabkan keterlambatan dalam penanganan medis sehingga berpotensi memperburuk kondisi pasien DBD. Oleh karena itu, diperlukan upaya komprehensif dari semua pihak untuk mengatasi dampak DBD.
Untuk mengatasi situasi ini, langkah-langkah komprehensif dan berkelanjutan perlu untuk diimplementasikan. Beberapa upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah Jawa Tengah di antaranya Pemberatasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus yaitu menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, dan mendaur ulang barang bekas. Di beberapa tempat, fogging juga telah dilakukan oleh pemerintah daerah untuk membunuh nyamuk secara lebih luas. Program lain yang turut dilakukan untuk mengatasi masalah DBD di Jawa Tengah yaitu sistem pelaporan real time (Tunggal Dara) dan pelatihan identifikasi jentik kepada siswa (Sijentik). Adapun beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut di antaranya dengan bakteri wolbachia yang diinfeksikan ke vektor nyamuk, selain itu dengan jamur Beauveria bassiana sebagai jamur patogen pengendali vektor nyamuk. Oleh karena itu, untuk mencapai keberhasilan dalam menekan angka kasus DBD di Jawa Tengah diperlukan integrasi yang baik antara kebijakan pemerintah, implementasi program, inovasi ilmiah, dan yang terpenting kesadaran masyarakat. Dengan adanya kolaborasi yang solid dari semua pihak maka diharapkan kasus DBD di Jawa Tengah akan semakin menurun dan tidak lagi menjadi masalah besar.
Oleh: Maria Meliana Elisabet Br Manik Huruk (Mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacana)